KHUTBAH JUMAT

Kamis, 20 Agustus 2026

Khutbah Kemerdekaan


 Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، الْمَلِكِ الْحَقِّ الْمُبِينِ، الَّذِي جَعَلَ الْحُرِّيَّةَ حَيَاةً لِلْأُمَمِ وَالشُّعُوبِ أَجْمَعِينَ، وَجَعَلَ الْإِيمَانَ حِصْنًا لِلْمُؤْمِنِينَ، وَجَعَلَ الْإِسْلَامَ عِزًّا لِلْمُسْلِمِينَ، وَفَضَّلَ أُمَّةَ سَيِّدِ الْمُرْسَلِينَ عَلَى سَائِرِ الْأُمَمِ أَجْمَعِينَ

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةً تُثَبِّتُ الْقُلُوبَ وَتُنْجِي الْمُوَحِّدِينَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، إِمَامُ الْمُجَاهِدِينَ، وَقُدْوَةُ الْمُصْلِحِينَ، وَرَحْمَةُ اللَّهِ لِلْعَالَمِينَ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِينَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّهَا زَادُ الْمُؤْمِنِينَ، وَحِصْنُ الْأَوْطَانِ الْآمِنِينَ، وَسَبَبُ فَوْزِ الْفَائِزِينَ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ﴾

.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan bukan hanya diucapkan dengan lisan, tetapi dibuktikan dengan ketaatan dalam ibadah, kejujuran dalam pekerjaan, amanah dalam kehidupan, serta akhlak yang baik kepada sesama manusia.

Pada bulan kemerdekaan ini marilah kita mensyukuri nikmat besar yang Allah anugerahkan kepada bangsa Indonesia, yaitu nikmat kemerdekaan. Kemerdekaan bukan sekadar bebas dari penjajahan, tetapi kemampuan untuk hidup mulia, beribadah dengan tenang, menuntut ilmu, bekerja, dan membangun masyarakat yang baik.

Syaikh Musthafa al-Ghalayaini dalam kitab Idhatu an-Nasyi’in menjelaskan tentang pentingnya kemerdekaan yang benar. Beliau berkata:

«الْحُرِّيَّةُ حَيَاةُ الْأُمَمِ، وَبِفَقْدِهَا تَكُونُ الْأُمَمُ كَالْأَجْسَادِ الْمَيِّتَةِ»

Artinya: “Kemerdekaan adalah kehidupan bangsa-bangsa; jika kemerdekaan hilang, maka bangsa-bangsa menjadi seperti jasad yang mati.”

Beliau juga berkata:

«الْحُرِّيَّةُ لَيْسَتْ أَنْ يَفْعَلَ الْإِنْسَانُ مَا يَشَاءُ، بَلْ أَنْ يَفْعَلَ مَا يَنْبَغِي أَنْ يَفْعَلَهُ»

Artinya: “Kemerdekaan bukanlah seseorang berbuat sesuka hatinya, tetapi berbuat apa yang semestinya ia lakukan.”

Inilah ajaran Islam dan inilah pula semangat Ahlussunnah wal Jamaah. Kebebasan dalam Islam selalu terikat dengan syariat, akhlak, dan kemaslahatan umat. Karena itu kemerdekaan tidak boleh dipakai untuk menyebar fitnah, kebencian, permusuhan, kemaksiatan, atau merusak persatuan bangsa.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ

“Sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam.” (QS. Al-Isra’: 70)

Kemuliaan manusia dijaga dengan iman dan akhlak. Maka kemerdekaan yang tidak disertai iman akan berubah menjadi kebebasan hawa nafsu, sedangkan kemerdekaan yang dipandu iman akan melahirkan keadilan dan kesejahteraan.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Para ulama mengajarkan bahwa mencintai tanah air dan menjaga persatuan adalah bagian dari menjaga kemaslahatan umat. Kemerdekaan Indonesia diraih dengan pengorbanan para ulama, santri, pejuang, dan rakyat. Resolusi Jihad menjadi bukti bahwa membela tanah air ketika agama dan bangsa terancam adalah kewajiban.

Karena itu tugas kita hari ini adalah mengisi kemerdekaan dengan ilmu, ibadah, akhlak, dan kerja nyata. Jangan sampai anak-anak kita merdeka secara politik tetapi terjajah oleh kebodohan, kemalasan, narkoba, judi, pornografi, dan kerusakan moral.

Kemerdekaan bukan hanya hak, tetapi juga amanah. Setiap kita memiliki tanggung jawab menjaga agama, keluarga, masyarakat, dan negeri ini sesuai kemampuan masing-masing. Rasulullah bersabda:

«كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menjelaskan bahwa tanggung jawab tidak hanya milik presiden, pejabat, atau ulama. Seorang ayah bertanggung jawab atas keluarganya, seorang ibu atas rumah tangganya, seorang guru atas murid-muridnya, seorang pemimpin atas rakyatnya, dan setiap warga negara bertanggung jawab menjaga ketertiban, persatuan, serta kemaslahatan bangsa.

Dalam konteks kemerdekaan Indonesia, hadis ini mengajarkan bahwa kita tidak cukup hanya menikmati hasil perjuangan para pahlawan. Kita wajib menjaga kemerdekaan itu dengan amal nyata: bekerja dengan jujur, mendidik anak dengan baik, menaati aturan yang tidak bertentangan dengan syariat, menjaga fasilitas umum, menolong sesama, serta ikut membangun masyarakat yang aman dan bermartabat.

Apabila setiap orang menunaikan amanahnya, bangsa akan kuat. Namun apabila amanah diabaikan—melalui korupsi, kemalasan, perpecahan, dan kerusakan moral—maka kemerdekaan dapat kehilangan maknanya. Karena itu para ulama Ahlussunnah wal Jamaah selalu menekankan bahwa menjaga kemaslahatan umum dan persatuan bangsa termasuk bagian dari kewajiban yang agung.

Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Dalam Tafsir Ath-Thabari, ayat ini bukan berarti manusia menentukan seluruh takdirnya sendiri. Maknanya adalah Allah tidak akan mencabut nikmat suatu kaum—seperti keamanan, kesejahteraan, dan persatuan—sampai mereka sendiri mengubah keadaan baik itu dengan kezaliman, permusuhan, dan kemaksiatan. Maka nikmat kemerdekaan akan tetap terjaga apabila masyarakat menjaga iman, akhlak, keadilan, dan persaudaraan. Penafsiran ini sejalan dengan aqidah Ahlussunnah wal Jamaah yang menegaskan bahwa segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allah, sementara manusia tetap wajib berikhtiar dan bertanggung jawab atas perbuatannya.

Karena itu kemerdekaan Indonesia harus kita syukuri dengan memperbaiki diri, keluarga, dan masyarakat. Jangan mengotori kemerdekaan dengan korupsi, kebencian, hoaks, dan perpecahan.

Marilah kita menjadi generasi yang memakmurkan masjid, mencintai ilmu, menghormati ulama dan umara, menjaga tradisi baik, serta menghidupkan semangat gotong royong sebagaimana diajarkan para ulama Nusantara.

أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

 

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَسَلِّمْ تَسْلِيمًا كَثِيرًا. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللّٰهَ فِيمَا أَمَرَ، وَانْتَهُوا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيمِ، فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا


اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.اللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُونِيسِيَا، وَاجْعَلْهَا بَلْدَةً آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً سَخَاءً رَخَاءً، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ.اللَّهُمَّ وَفِّقْ وُلَاتَنَا وَعُلَمَاءَنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَأَصْلِحْهُمْ وَأَصْلِحْ بِهِمُ الْبِلَادَ وَالْعِبَادَ.اللَّهُمَّ انْصُرِ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَعْلِ بِفَضْلِكَ كَلِمَةَ الْحَقِّ وَالدِّينِ.اللَّهُمَّ ارْحَمْ شُهَدَاءَ الْأُمَّةِ وَشُهَدَاءَ الْوَطَنِ، وَاجْزِهِمْ عَنَّا خَيْرَ الْجَزَاءِ.اللَّهُمَّ ارْزُقْ شَبَابَنَا عِلْمًا نَافِعًا، وَعَمَلًا صَالِحًا، وَخُلُقًا حَسَنًا، وَاصْرِفْ عَنْهُمُ الْفِتَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Khutbah Kemerdekaan

  Khutbah Pertama الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، الْمَلِكِ الْحَقِّ الْمُبِينِ، الَّذِي جَعَلَ الْحُرِّيَّةَ حَيَاةً لِلْأُمَمِ وَال...