الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، الْمَلِكِ الْحَقِّ الْمُبِينِ، الَّذِي جَعَلَ الْحُرِّيَّةَ حَيَاةً لِلْأُمَمِ وَالشُّعُوبِ أَجْمَعِينَ، وَجَعَلَ الْإِيمَانَ حِصْنًا لِلْمُؤْمِنِينَ، وَجَعَلَ الْإِسْلَامَ عِزًّا لِلْمُسْلِمِينَ، وَفَضَّلَ أُمَّةَ سَيِّدِ الْمُرْسَلِينَ عَلَى سَائِرِ الْأُمَمِ أَجْمَعِينَ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةً تُثَبِّتُ الْقُلُوبَ وَتُنْجِي الْمُوَحِّدِينَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، إِمَامُ الْمُجَاهِدِينَ، وَقُدْوَةُ الْمُصْلِحِينَ، وَرَحْمَةُ اللَّهِ لِلْعَالَمِينَ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِينَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّهَا زَادُ الْمُؤْمِنِينَ، وَحِصْنُ الْأَوْطَانِ الْآمِنِينَ، وَسَبَبُ فَوْزِ الْفَائِزِينَ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ﴾
.
Ma’asyiral muslimin
rahimakumullah,
Marilah kita
senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah dengan menjalankan segala
perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan bukan hanya diucapkan
dengan lisan, tetapi dibuktikan dengan ketaatan dalam ibadah, kejujuran dalam
pekerjaan, amanah dalam kehidupan, serta akhlak yang baik kepada sesama
manusia.
Pada bulan kemerdekaan ini marilah kita mensyukuri
nikmat besar yang Allah anugerahkan kepada bangsa Indonesia, yaitu nikmat
kemerdekaan. Kemerdekaan bukan sekadar bebas dari penjajahan, tetapi kemampuan
untuk hidup mulia, beribadah dengan tenang, menuntut ilmu, bekerja, dan
membangun masyarakat yang baik.
Syaikh Musthafa al-Ghalayaini dalam kitab Idhatu
an-Nasyi’in menjelaskan tentang pentingnya kemerdekaan yang benar. Beliau
berkata:
«الْحُرِّيَّةُ حَيَاةُ
الْأُمَمِ، وَبِفَقْدِهَا تَكُونُ الْأُمَمُ كَالْأَجْسَادِ الْمَيِّتَةِ»
Artinya: “Kemerdekaan adalah kehidupan bangsa-bangsa;
jika kemerdekaan hilang, maka bangsa-bangsa menjadi seperti jasad yang mati.”
Beliau juga berkata:
«الْحُرِّيَّةُ لَيْسَتْ
أَنْ يَفْعَلَ الْإِنْسَانُ مَا يَشَاءُ، بَلْ أَنْ يَفْعَلَ مَا يَنْبَغِي أَنْ
يَفْعَلَهُ»
Artinya: “Kemerdekaan bukanlah seseorang berbuat
sesuka hatinya, tetapi berbuat apa yang semestinya ia lakukan.”
Inilah ajaran Islam dan inilah pula semangat
Ahlussunnah wal Jamaah. Kebebasan dalam Islam selalu terikat dengan syariat,
akhlak, dan kemaslahatan umat. Karena itu kemerdekaan tidak boleh dipakai untuk
menyebar fitnah, kebencian, permusuhan, kemaksiatan, atau merusak persatuan
bangsa.
Allah Ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ
كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ
“Sungguh Kami telah memuliakan
anak cucu Adam.” (QS. Al-Isra’: 70)
Kemuliaan manusia dijaga dengan iman dan akhlak.
Maka kemerdekaan yang tidak disertai iman akan berubah menjadi kebebasan hawa
nafsu, sedangkan kemerdekaan yang dipandu iman akan melahirkan keadilan dan
kesejahteraan.
Jamaah Jumat yang dimuliakan
Allah,
Para ulama mengajarkan bahwa mencintai tanah air
dan menjaga persatuan adalah bagian dari menjaga kemaslahatan umat. Kemerdekaan
Indonesia diraih dengan pengorbanan para ulama, santri, pejuang, dan rakyat.
Resolusi Jihad menjadi bukti bahwa membela tanah air ketika agama dan bangsa
terancam adalah kewajiban.
Karena itu tugas kita hari ini adalah mengisi
kemerdekaan dengan ilmu, ibadah, akhlak, dan kerja nyata. Jangan sampai
anak-anak kita merdeka secara politik tetapi terjajah oleh kebodohan,
kemalasan, narkoba, judi, pornografi, dan kerusakan moral.
Kemerdekaan bukan hanya hak, tetapi juga amanah.
Setiap kita memiliki tanggung jawab menjaga agama, keluarga, masyarakat, dan
negeri ini sesuai kemampuan masing-masing. Rasulullah ﷺ
bersabda:
«كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ
مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»
“Setiap kalian adalah pemimpin
dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjelaskan bahwa tanggung jawab tidak
hanya milik presiden, pejabat, atau ulama. Seorang ayah bertanggung jawab atas
keluarganya, seorang ibu atas rumah tangganya, seorang guru atas
murid-muridnya, seorang pemimpin atas rakyatnya, dan setiap warga negara
bertanggung jawab menjaga ketertiban, persatuan, serta kemaslahatan bangsa.
Dalam konteks kemerdekaan Indonesia, hadis ini
mengajarkan bahwa kita tidak cukup hanya menikmati hasil perjuangan para
pahlawan. Kita wajib menjaga kemerdekaan itu dengan amal nyata: bekerja dengan
jujur, mendidik anak dengan baik, menaati aturan yang tidak bertentangan dengan
syariat, menjaga fasilitas umum, menolong sesama, serta ikut membangun
masyarakat yang aman dan bermartabat.
Apabila setiap orang menunaikan amanahnya, bangsa
akan kuat. Namun apabila amanah diabaikan—melalui korupsi, kemalasan,
perpecahan, dan kerusakan moral—maka kemerdekaan dapat kehilangan maknanya.
Karena itu para ulama Ahlussunnah wal Jamaah selalu menekankan bahwa menjaga
kemaslahatan umum dan persatuan bangsa termasuk bagian dari kewajiban yang
agung.
Allah berfirman:
إِنَّ
اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak
mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri
mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Dalam Tafsir
Ath-Thabari, ayat ini bukan berarti manusia menentukan seluruh takdirnya
sendiri. Maknanya adalah Allah tidak akan mencabut nikmat suatu kaum—seperti
keamanan, kesejahteraan, dan persatuan—sampai mereka sendiri mengubah keadaan
baik itu dengan kezaliman, permusuhan, dan kemaksiatan. Maka nikmat kemerdekaan
akan tetap terjaga apabila masyarakat menjaga iman, akhlak, keadilan, dan
persaudaraan. Penafsiran ini sejalan dengan aqidah Ahlussunnah wal Jamaah yang
menegaskan bahwa segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allah, sementara manusia
tetap wajib berikhtiar dan bertanggung jawab atas perbuatannya.
Karena itu kemerdekaan Indonesia harus kita syukuri
dengan memperbaiki diri, keluarga, dan masyarakat. Jangan mengotori kemerdekaan
dengan korupsi, kebencian, hoaks, dan perpecahan.
Marilah kita menjadi generasi yang memakmurkan
masjid, mencintai ilmu, menghormati ulama dan umara, menjaga tradisi baik,
serta menghidupkan semangat gotong royong sebagaimana diajarkan para ulama
Nusantara.
أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَسَلِّمْ تَسْلِيمًا كَثِيرًا. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللّٰهَ فِيمَا أَمَرَ، وَانْتَهُوا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيمِ، فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.اللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُونِيسِيَا، وَاجْعَلْهَا بَلْدَةً آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً سَخَاءً رَخَاءً، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ.اللَّهُمَّ وَفِّقْ وُلَاتَنَا وَعُلَمَاءَنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَأَصْلِحْهُمْ وَأَصْلِحْ بِهِمُ الْبِلَادَ وَالْعِبَادَ.اللَّهُمَّ انْصُرِ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَعْلِ بِفَضْلِكَ كَلِمَةَ الْحَقِّ وَالدِّينِ.اللَّهُمَّ ارْحَمْ شُهَدَاءَ الْأُمَّةِ وَشُهَدَاءَ الْوَطَنِ، وَاجْزِهِمْ عَنَّا خَيْرَ الْجَزَاءِ.اللَّهُمَّ ارْزُقْ شَبَابَنَا عِلْمًا نَافِعًا، وَعَمَلًا صَالِحًا، وَخُلُقًا حَسَنًا، وَاصْرِفْ عَنْهُمُ الْفِتَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
